PERTEMUAN DENGAN PRESIDEN DI ISTANA NEGARA

Kamis, 22 Maret 2018 yang lalu, Andi Malewa (Pendiri Institut Musik Jalanan) mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Bersama rombongan delegasi KAMI MUSIK INDONESIA yang diketuai oleh Glenn Fredly. Agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah menyampaikan 12 butir kesepakatan yang dicapai dalam Konferensi Musik di Ambon pada tanggal 7-9 Maret 2018 kepada Presiden Joko Widodo.

Setelah pemaparan yang dibuka oleh Glenn Fredly dan dijawab langsung oleh Presiden, Andi Malewa mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan pandangan dan perjuangan yang dilakukan oleh Institut Musik Jalanan. Berikut pernyataan Andi Malewa yang dikutip dari laman Fan Pages Resminya.

Assalamualaikum wr.wb
Salam Jalanan.

Hari ini, saya berkesempatan untuk turut hadir bersama delegasi Konferensi Musik Indonesia untuk bertemu dengan Bapak Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Untuk kali ke-6, pertemuan saya dengan beliau, rasanya inilah pertemuan yang paling istimewa bagi saya pribadi.

Berkali-kali saya menerobos barisan paspampres hanya untuk berbicara mengenai masalah musisi jalanan di Indonesia, rasanya saya tidak pernah segugup hari ini, dimana saya duduk berhadap-hadapan satu meja dengan Bapak Presiden dan beliau menatap saya berbicara dengan penuh konsentrasi.

Dalam kesempatan kali ini saya berbicara musik dari sudut pandang sosial dan humanity. Saya menyampaikan kepada Bapak Jokowi tentang Undang-undang yang masih menempatkan Pengamen/Musisi Jalanan dalam butir-butir PMKS, dimana posisi kawan-kawan musisi jalanan masih disetarakan dengan pengemis dan gelandangan. Saya sampaikan kepada beliau, bahwa kualitas musisi-musisi yang beraktifitas di jalanan sungguh tidak kalah dengan musisi profesional. Bertahun-tahun, IMJ dengan segala macam dinamikanya berjuang begitu keras untuk membuktikan kepada masyarakat khususnya pemerintah bahwa sudah saatnya musisi jalanan Indonesia naik kelas.

Program SUPERCARD yang kami jalankan bersama KEMDIKBUD telah menemukan pola yang tepat untuk mendefinisikan siapa yang layak untuk diakui oleh negara sebagai musisi bertalenta (yang hingga hari ini masih menjadikan jalanan sebagai panggungnya), siapa yang mengemis berkedok pengamen dan mana preman berkedok sebagai pengamen yang telah membuat stigma negatif ini tertanam dibenak masyarakat dan pemerintah selama bertahun-tahun.

Dihadapan Bapak Presiden, saya meminta kepada beliau agar program penempatan musisi jalanan dari Institut Musik Jalanan dan KEMDUKBUD melalui sertifikasi/lisensi SUPERCARD dapat segera terealisasi bekerjasama dengan BEKRAF RI.
2 lokasi besar yang ingin kami jadikan sebagai “panggung” tersebut adalah Stasiun MRT dan Stasiun Kereta Api (Comuterline Jabodetabek). Bukan hal yang mustahil untuk menyaksikan perform-perform musisi berkelas di Jalanan dan di ruang-ruang publik di Negara ini seperti halnya musisi-musisi jalanan di Luar negeri yang berekspresi dengan bebas di area-area publik.

Sampai hari ini, saya tidak sedang memperjuangkan IMJ saja, melainkan agar musisi-musisi jalanan se-Indonesia mendapatkan pengakuan yang legalitas yang sah dari pemerintah, tidak ada lagi UU atau perda-perda yang menyetarakan musisi jalanan dengan pengemis dan gelandangan, ini bukan pekerjaan yang mudah, namun saya selalu yakin bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia.

Bapak Presiden Jokowi mendengarkan, menyimak dan mencatat semua yang saya sampaikan dengan baik. Doakan, agar perjuangan ini berhasil, walau masih jauh dari sempurna, namun setidaknya IMJ akan terus berkomitmen, konsisten & totalitas untuk memperjuangkannya. Selebihnya, mari kita berdoa agar perjuangan ini diberkahi oleh Allah SWT.
La hawlawala quwwata illa billah.

Wassalamualaikum wr.wb.

Kamis, 22 Maret 2018

Salam Jalanan


Andi Malewa

Pendiri Institut Musik Jalanan

*dikutip oleh admin
Source Instagram : @andivox

Leave a Reply