Surat dari Jalanan

Kawan, teriring ucapan terima kasih yang tak terhingga dan segenap kerendahan hati dari kami, bertepatan dengan perayaan hari kasih sayang, sudilah kiranya luangkan waktumu sejenak untuk membaca sebuah surat cinta dari kami, surat yang terlahir dari keyakinan akan mimpi-mimpi besar yang hidup di antara kerasnya kehidupan jalanan.

TESTIMONIAL :

“Gue pernah ngobrol langsung sama Dhava pas gw di undang ke IMJ, jujur gue tergugah dengan perjuangan dan perjalanannya, This is the real INDEPENDENSI dalam bermusik. Dhava membuka mata gw lebar lebar dengan kisahnya”. (Luks – SUPERGLAD)

“Seorang musisi jalanan yang berkarya sehebat & selayaknya musisi2 di industri kita saat ini, yang menyenangkan adalah, Dhava percaya dgn musiknya, percaya dgn karyanya. Itu yang paling dibutuhkan seorang musisi untuk survive di industri musik!”. (BARRY LIKUMAHUWA)

Namanya Dhava, sahabat kami yang berjuang demi karyanya. Ia adalah seorang musisi jalanan, seorang guru ngaji bahkan tidak membawa bekal apa-apa ketika ia datang ke ibukota yang keras ini, dibawah ini adalah sepenggal kisah dari sahabat kami yang mungkin bisa membuka mata, hati dan telinga kita tentang perjalanannya mengejar mimpi besarnya.

Dhava lahir di Kota Padang, tanggal 5 september 1989, ia adalah anak ke 4 dari 5 bersaudara. Tahun 2007, dhava meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di Jakarta, ia diterima bekerja sebagai penjaga counter handphone di sebuah counter kecil di daerah Tanjung Priok. Karena upah yang tidak mencukupi, selepas menjaga counter dhava kerap mencari uang tambahan untuk bertahan hidup dengan mengamen di daerah PIK. Selama 7 tahun ia berjuang di Ibukota namun nasib baik belum mau menghampirinya. Merasa hidupnya tanpa arah dan gagal untuk mencari nafkah di ibukota tercinta ini,

Tahun 2014 dhava pun memilih kembali ke kota asalnya, Sumatera Barat. Setibanya di Padang, Dhava bekerja serabutan, bahkan menjadi kuli bangunan pun ia lakukan demi membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sambil menjalani berbagai jenis pekerjaan kasar di tanah kelahirannya, dhava kerap meluangkan waktunya untuk membantu kegiatan belajar mengaji di sebuah masjid di daerah Paraklaweh kecamatan Lubuk Begalung, di provinsi Sumatra barat. Sampai di suatu hari, seorang sahabatnya di Jakarta memberitahukan kalau Institut Musik Jalanan (IMJ) membuka audisi bagi musisi jalanan untuk ikut dalam album kompilasi ke 2 Institut Musik Jalanan yang bertempat di kota Depok, Jawa Barat. Dhava pun segera mencari tahu tentang Institut Musik Jalanan.

Akhirnya, dengan restu ke dua orang tuanya serta dukungan dari para sahabat di kampungnya, dhava pun nekad datang kembali ke ibukota. Hanya dengan berbekal 4 pasang pakaian dan uang sebesar Rp.250.000,- yang di dapatnya dari upah mengajar mengaji, sedangkan harga tiket bis saat itu seharga Rp.250.000,- itu pun harga dijalan bukan harga resmi dari pool bis jurusan Padang – Jakarta, namun seorang temannya mau meminjamkan uang sebesar Rp.200.000,- untuk bekal pegangan dhava selama di perjalanan menuju Jakarta. Dukungan inilah yang membuat dhava merasa sangat berhutang budi. Dhava berjanji dalam hatinya untuk tidak akan mengecewakan keluarga serta para sahabat-sahabatnya. Dengan tekad yang bulat, dhava berangkat menuju ibukota, tujuannya hanya satu, ke Markas Institut Musik Jalanan.

Setibanya di IMJ, dengan perut yang lapar dan bekal uang yang hanya tersisa sedikit, dhava yang seperti layaknya seorang pengamen jalanan lainnya duduk di sebuah pojok ruangan dengan maksud ingin bertemu dengan salah satu pendiri dari IMJ, Andi Malewa. Dhava pun mencoba memperdengarkan karya lagu ciptaannya kepada tim Audisi di IMJ, namun andi tidak langsung menanggapi karya dhava, melainkan menyuruh dhava untuk berpikir kembali soal niatannya untuk menjadi musisi dan bertarung di kerasnya kehidupan Jakarta, mengingat proses pembuatan album itu membutuhkan proses yang cukup panjang dan dhava tetap harus berjuang, minimal untuk bertahan hidup.

Di hadapkan dengan kondisi yang akan ia jalani di IMJ, dan bekal uang yang sudah sangat menipis, dhava meminta izin pada andi untuk diperbolehkan menumpang tinggal di IMJ. Oleh Andi, dhava diberi kesempatan untuk tinggal sementara waktu di IMJ dan diberikan tugas untuk membantu usaha kedai kopi di IMJ sebagai penyaji masakan dan minuman untuk pelanggan kedai kopi IMJ. Kedai Kopi ini dibuat untuk membantu pembiayaan operasional di markas IMJ. Sambil menjalani hari-harinya sebagai pelayan di kedai ekspresi IMJ, sesekali dhava kembali ke jalanan untuk ngamen bersama teman temannya di IMJ.

Hingga pada suatu malam, di saat kedai ekspresi sudah tutup, dhava yang belum bisa tertidur mencoba mengisi waktunya sambil bernyanyi dengan gitar akustik yang sudah sangat butut. Dari ruang kamarnya, ternyata andi menyimak dan bertanya tanya, ini siapa yang sedang bernyanyi? Andi kemudian menyadari bahwa ternyata dhava memiliki suara yang indah dan karya yang sudah seharusnya didengarkan oleh semua orang. Malam itu juga andi memutuskan untuk menyertakan karya Dhava ke dalam album kompilasi ke 2 IMJ. Bahkan karya dhava yang berjudul ”Bintang Malam Ini” di jadikan single di album kompilasi ke 2 dari IMJ yang bertajuk ”CERAH”.

14 Februari 2016 bertepatan dengan peringatan hari kasih sayang, Institut Musik Jalanan kembali akan menggoreskan sejarahnya di dunia musik tanah air dengan merilis album kompilasinya yang ke 2 berisi 9 materi lagu dari 7 orang musisi jalanan terpilih dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Sleman, Purwokerto, Depok dan Jakarta, tentunya Dhava dari Padang, Sumatera Barat. Tidak hanya dalam bentuk fisik, mungkin ini adalah sejarah pertama dalam industri musik tanah air, dimana 7 orang musisi jalanan Indonesia merilis albumnya secara digital melalui iTunes. Berikut link download iTunes album #CERAH

Album CERAH di iTunes

Sebuah perjalanan panjang dari keniscayaan akan mimpi, kisah perjuangan hidup yang pada akhirnya menuju kenyataan. Dhava dan ke 6 orang musisi jalanan terpilih lainnya akan menjawab semua keraguan terhadap kualitas musisi jalanan yang selama ini kerap mendapat stigma buruk dari masyarakat. Dhava dan 6 orang musisi jalanan lainnya akan membuktikan kepada kita semua bahwa hari ini, karya musisi jalanan tidak bisa lagi di pandang sebelah mata. Berikut video klip yang menjadi salah satu single Dhava di album CERAH.

Dhava – Bintang Malam Ini

Sekali lagi terima kasih atas segala perhatiannya, mungkin jika teman-teman media biasanya membaca sebuah PRESS RELEASE, maka inilah bentuk PRESS RELEASE dari kami, sebuah ”Surat Dari Jalanan”.

Salam Jalanan.
REGARD

INSTITUT MUSIK JALANAN
#CERAH

One thought on “Surat dari Jalanan

Leave a Reply