(Kompas) Kreativitas Pengamen, dari Larangan Menjadi Rekaman

Fadil, Renkgo, Bimo, Sinyo, Ari, dan Dhea yang biasa berkeliling Jabodetabek untuk mengamen mengumbar senyum semringah pada Minggu (17/8) malam. Hari itu, keenamnya tampil solo membawakan lagu-lagu mereka di Kedai Ekspresi Institut Musik Jalanan, Depok, Jawa Barat.

KOMPAS | 29 Agustus 2014

Oleh Ingki Rinaldi

Hari Kemerdekaan Ke-69 RI itu menjadi tonggak kemerdekaan bagi para pengamen tersebut dalam menulis lagu, merekamnya, dan mendistribusikannya secara mandiri. Hari itu mereka yang menyandang akronim ”IMJ” di belakang nama masing-masing meluncurkan album rekaman produksi Institut Musik Jalanan (IMJ) yang diberi titel Kalahkan Hari Ini.

Malam itu klip video ”Penjaga Cinta” yang dinyanyikan Sinyo disiapkan. Sejumlah undangan menanti dengan tidak sabar. Beberapa di antara yang terlihat hadir adalah musisi Beben Jazz yang datang bersama istrinya, Inna Kamarie.

Tampak pula pemain sinetron dan bintang film Arumi Bachsin yang datang beserta suaminya, Emil Elestianto Dardak. Tak lama klip video yang dibuka dengan gambar kereta api yang bergerak mendekati penonton itu dipertontonkan.

Irama relatif mudah dinikmati, lirik sederhana, dan visualisasi kuat hubungan dua orang transjender yang berakhir dengan kematian salah seorang di antaranya semakin membuat hadirin larut.

Penampilan dalam klip video tersebut terbayar lunas. Ini masih dilanjutkan dengan aksi langsung di atas panggung, termasuk Sinyo yang kembali menyanyikan lagu itu bersama sejumlah musisi. Sambutan pun meriah.

”Merinding,” kata musisi Beben Jazz. Ia sampai harus menegaskan bahwa jaket di tubuhnya hanya ditujukan untuk mengatasi perasaan yang menegakkan bulu kuduk tersebut.

Beben menilai, karya-karya para pengamen yang tergabung dalam IMJ keluar dari kejujuran dan keikhlasan. ”Soulful,” kata Beben saat diminta mendefinisikan penampilan dan karya-karya itu dalam satu kata.

Album itu dipersiapkan sekitar satu tahun. Andi Malewa, Iksan Skuter, dan Frysto Gurning yang menjadi produser album rekaman itu melakukan seleksi pada tahun 2013.

Mereka mengaudisi sejumlah pengamen yang memiliki karya dan punya kualifikasi tertentu. Para pengamen itu datang dan bergabung, masing-masing dengan cara yang berbeda.

Sinyo, misalnya, datang ke Depok pada suatu malam dengan menumpang bus patas dari kawasan Kampung Rambutan. Modalnya waktu itu hanya uang sebanyak Rp 5.000.

Tekadnya satu, bertemu dengan Andi untuk menegaskan, ”Gua merasa punya karya, tetapi selama ini dipandang sebelah mata. Sekarang gua tunjukkan.”

Para pengamen itu lalu diberikan semacam lokakarya (workshop) untuk memberikan pemahaman utuh tentang musik, termasuk konsep dan teknik rekaman. Pembagian not berdasarkan satuan waktu dan menjaga tempo bermusik dengan perangkat metronome adalah beberapa hal baru yang diajarkan.

Sebagian proses itu dilakukan di Kedai Ekspresi yang berada di Depok dan ditempati sejak Januari lalu. Itu merupakan tempat pertaruhan karena menempati lahan kontrak selama tiga tahun dengan bangunan yang didirikan IMJ.

Terdapat sepuluh lagu dalam setiap keping cakram padat (compact disc) yang diproduksi. Salah satu lagu yang dinyanyikan Sinyo dengan judul ”Penjaga Cinta” dijadikan jagoan.

Pengamat musik Buddy Ace menyebut proyek rekaman yang digarap IMJ sebagai alternatif mencerahkan di tengah cenderung kolapsnya industri rekaman arus utama. Solusi rekaman mandiri, dengan biaya relatif lebih murah, memungkinkan energi kreatif tersalur tanpa hambatan finansial.

Biaya produksi rekaman itu relatif murah. Totalnya sekitar Rp 8 juta.

Iksan Skuter, yang telah memiliki album rekaman berjudul Matahari dengan 15 lagu di dalamnya, menjadi penata rekaman. Iksan menyebut perjalanan hidupnya yang membawa pada eksperimen tersebut.

”Kalau dulu saya sukses seperti (menyebut nama sebuah band terkenal), mungkin saya tidak belajar,” kata Iksan.

Ia mengingat, dominasi industri musik ketika itu bahkan sampai seolah menghilangkan jati dirinya sebagai seniman. Iksan menyebutkan, itu seperti dalam penampilannya secara lip sync yang diharuskan salah satu stasiun televisi.

Protes secara unik sempat dilakukannya saat tampil langsung dengan teknik lip sync yang tidak disukainya itu, yaitu dengan menggerakkan tangan serupa orang berdoa. ”Hanya dengan berdoa, gitarku sudah bunyi. Tapi, setelah itu saya ditegur,” seloroh Iksan.

Embrio 2.000 keping cakram padat dengan desain sampul kreatif yang bakal dijual dengan pemasaran langsung saat mengamen di jalanan itu bakal terus dikembangkan. Iksan menyebutkan, prototipe proyek tersebut bisa juga diimplementasikan di sejumlah tempat lain, seperti terminal-terminal angkutan umum di seluruh Indonesia.

Terminal angkutan umum dipilih karena Andi mengawali gerakan tersebut saat bersama sejumlah rekannya membuka Rumah Baca Panter (Paguyuban Terminal) di Terminal Depok pada pertengahan 2012. Kini masyarakat setempat yang menjadi pengelola rumah baca itu.

Adalah Peraturan Daerah Kota Depok Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pembinaan dan Pengawasan Ketertiban Umum yang menjadi bahan bakar proyek rekaman itu. Andi marah saat mengetahui peraturan daerah itu memperlakukan pengamen seolah pelaku tindak pidana ringan.

Andi yang merupakan lulusan terbaik Universitas Pancasila 2011 lantas menyalurkan energi kemarahannya untuk menggarap proyek itu. Keberpihakan kepada pengamen jalanan yang dipinggirkan oleh sebagian pihak ditegaskannya malam itu.

”Mereka mengamen karena tidak punya ruang di industri musik, ini hasrat mereka,” kata Andi yang sebelumnya pernah mengamen dan hidup di jalanan.


Sumber: Kompas Berbagi

Leave a Reply