Sejarah Institut Musik Jalanan

Berangkat dari keprihatinan kami atas fenomena industri musik yang semakin hari semakin mempersempit ruang untuk berkarya, kami tergerak untuk membangun sebuah ruang karya khususnya dibidang musik bagi para musisi dan seniman jalanan. Perda Kota Depok No. 16 tahun 2012 tentang larangan memberi uang kepada pengemis / pengamen dan anak jalanan diberlakukan oleh pemerintah Kota Depok. Sementara itu dilapangan, pengamen / anak jalanan tidak memiliki ruang untuk menyalurkan talenta bermusik yang mereka miliki.

Patut kita ketahui bersama bahwa tidak semua dari pengamen dan anak jalanan masuk dalam kategori “pemalas”, kebanyakan dari mereka adalah berasal dari golongan keluarga tidak mampu dan hanya sedikit diantara mereka yang putus sekolah, sebagian besar hampir tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Namun, banyak dari pengamen / musisi jalanan adalah orang-orang yang memiliki talenta dalam bermusik, sayang kesempatan dan ruang berkarya tidak berlaku ramah untuk mereka.

Sekolah musik, les musik atau rekaman dalam label industri besar mungkin hanya sebatas mimpi semata, bagi kawan-kawan musisi dan pengamen jalanan dengan penghasilan tidak lebih dari Rp. 50.000 / hari, hal ini hanyalah omong kosong belaka. Sementara, alih profesi juga bukan hal yang mudah untuk mereka lakukan, jika kita ingin berlaku adil sekiranya kita dapat memahami bahwa talenta bermusik yang mereka miliki adalah anugerah yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tidak ada satupun manusia yang mampu menolak pada kondisi mana mereka mau dilahirkan, apalagi menolak bakat yang dianugerahkan kepadanya, jika sebuah aturan dibuat untuk memaksa seseorang berpindah profesi untuk mencari pekerjaan lain yang sama sekali tidak dikuasainya sudah dapat kita bayangkan hasilnya akan seperti apa.

Dan jika tuntutan ekonomi semakin mencekik, sementara aturan yang diberlakukan bagi para pencari hidup dijalanan semakin keras, bukan tidak mungkin jika kelak aturan tersebut akan melahirkan pelaku-pelaku kriminal baru dijalanan.

Hal lain yang mendapat perhatian serius dari Institut Musik Jalanan adalah karya-karya yang lahir dari media televisi maupun radio, sedikit sekali media yang mau mengangkat kembali lagu-lagu untuk anak. Sehingga anak-anak di Indonesia hampir kehilangan dunia mereka. Bukan hanya itu saja, anak-anak pada masa kini hampir tidak mengenali budaya mereka sendiri, bukan tidak mungkin jika kelak mereka akan kehilangan kesenian dan budaya di negerinya sendiri dan jangan heran jika pada suatu masa, anak-anak kita tidak lagi mengenali Saluang, Gondang Sembilan, Gamelan atau Karinding.

Dunia kanak-kanak, dimana imajinasi mereka sedang tumbuh dan berkembang “ikut dirusak” dengan produksi-produksi lagu dewasa yang bukan untuk dikonsumsi oleh usia mereka. Industri musik mainstream “menjajah anak-anak”dengan suguhan lagu “cinta menye-menye” yang sejatinya belum pantas untuk mereka konsumsi. Begitupun yang terjadi pada adik-adik yang berada dalam binaan kami, sebagian besar dari mereka adalah pengamen jalanan. Dalam beraktivitas mengamen, mereka dengan fasih menyanyikan lagu-lagu bertema cinta sementara usia mereka masih sangat dini untuk menyanyikan lagu-lagu yang selayaknya dikonsumsi oleh orang dewasa.

Industri Musik larut dalam komersial dan nilai-nilai rupiah tanpa mau berpikir bagaimana membangun moral dan mental yang baik bagi anak-anak. Kami bertekad untuk “melawan” dengan cara-cara yang terhormat.

Adalah Institut Musik Jalanan, nama yang kami berikan untuk wadah kami dalam menghasilkan karya musik yang tak kalah kualitasnya dengan industri musik modern. Kami mencetak karya-karya dari para seniman jalanan dalam bentuk CD selayaknya produksi musik major label. Namun, dalam praktek pemasarannya kami menggunakan cara-cara indie yang sangat struggle, dari satu bis ke bis yang lainnya, dari satu angkutan umum ke angkutan umum lainnya, dengan berbekal tanda pengenal resmi ( Kartu Bebas Ngamen yang telah kami perjuangkan sejak tahun 2012) mereka mengamen sambil menjual CD album para seniman / musisi jalanan dengan metode “Direct Selling”. Mereka tidak lagi sekedar mengamen, melainkan berjualan, ya menjual hasil karya dari talenta mereka sendiri.

Di Institut Musik Jalanan, para rekan Pengamen / Musisi jalanan kami arahkan untuk mematangkan karya lagu milik mereka sendiri, mengaransemen karyanya sendiri, belajar memproses lagu sampai tahap recording. Karya yang telah direkam kemudian dikemas kedalam bentuk kepingan CD yang juga diproses di Institut Musik Jalanan.

Berikut Visi dan Misi dari Institut Musik Jalanan:

Visi: Menjadi ruang ekspresi, berkarya dan berbudaya melalui musik.

Misi:

  1. Mangajarkan pada masyarakat agar lebih menghargai karya seni khususnya musik dengan membeli CD original.
  2. Mengajarkan kepada Musisi /Pengamen jalanan untuk kreatif dalam berkarya.
  3. Membentuk karakter musisi dan pengamen jalanan yang lebih berkelas dengan cara memasarkan CD hasil karya mereka sendiri. (tidak meminta uang receh melainkan berjualan CD)
  4. Mengajarkan sistem produksi secara profesional dimulai dari proses pematangan lagu, arransemen musik, mixing, mastering, penggandaan CD serta proses distribusi secara INDEPENDEN!
  5. Merangsang talenta bermusik demi menciptakan karya yang imajinatif, edukatif dan kreatif.

Bagaimana kami dapat mewujudkan dan membiayai Institut Musik Jalanan?

Institut Musik Jalanan didirikan oleh tiga orang yang berjuang dengan gigih dibidangnya masing-masing. Andi Malewa, pendiri rumah baca terminal Pepok; Iksan Skuter, seorang musisi dan music director yang telah malang melintang dalam industri musik baik major maupun indie dan Frysto Gurning, dengan latar belakang sebagai seorang entrepeneur. Persahabatan yang terjalin diantara ke tiga founder inilah yang kerap melahirkan perbincangan yang panjang dan serius.

Berawal dari perbincangan ringan disebuah warung kopi pada pertengahan tahun 2013, Andi, Iksan dan Frysto kemudian merumuskan ide pembentukan Institut Musik Jalanan.

Tepat di akhir tahun 2013, Andi Malewa, Iksan Skuter dan Frysto Gurning kemudian mematangkan ide-ide pembentukan Institut Musik Jalanan. Januari 2014, atas kesepakatan ketiga pendiri Institut Musik Jalanan inilah Gedung Institut Musik Jalanan yang dirancang sepenuhnya oleh Burhan Malewa (ayah dari Andi Malewa) kemudian terealisasi. Institut Musik Jalanan dibangun diatas tanah seluas 300 meter persegi dengan status sewa lahan selama 3 tahun.

Bukan hanya sebagai ruang rekaman gratis bagi pengamen / musisi jalanan, Institut Musik Jalanan, juga sangat serius menggarap sebuah label rekaman. Gedung Institut Musik Jalanan memiliki fasilitas dan asset sebagai berikut :
a. Ruang Rekaman
b. Ruang kantor Manajemen
c. Stage Akustik
d. Satu Set Alat rekaman
e. Satu set alat musik Akustik
f. Ruang pembekalan kelas musik.

Selain berfungsi sebagai ruang karya dan recording room, Institut Musik Jalanan pun membekali diri dengan beberapa unit usaha guna menunjang biaya operasional Institut Musik Jalanan, seperti kebutuhan listrik, biaya produksi, distribusi dan manajemen.

Adapun unit usaha yang dimiliki oleh Institut Musik Jalanan adalah sebagai berikut :

  1. Kedai Ekspresi IMJ – Berupa unit usaha cafe dengan menu utama aneka jenis kopi dan menu-menu pendukung lainnya. Kedai Ekspresi IMJ berada di dalam gedung Institut Musik Jalanan dengan fasilitas sebagai berikut :
    a. Ruangan Kafe dengan kapasitas 100 orang.
    b. Screen & Projector
    c. LED TV & Sound System.
    d. Stage Akustik
    e. Musholla
    f. Book Corner
    g. Saung Komunitas.
    h. 2 Kamar mandi.
    i. Free Wifi
    j. Cable TV
Kedai Ekspresi. Dok: IMJ

Selayaknya sebuah coffee shop, Kedai Ekspresi IMJ berfungsi sebagai ruang terbuka untuk kawan-kawan komunitas lainnya. Institut Musik Jalanan membuka diri bagi siapa saja yang ingin menjadikan Kedai Ekspresi IMJ sebagai base community. Kedai Ekspresi IMJ adalah ruang diskusi dan sarana untuk saling bertukar informasi dari satu komunitas dengan komunitas yang lainnya.

  1. Distro IMJ
  • Menjual berbagai macam kaos, accesories dan pernak-pernik Institut Musik Jalanan.

Bagaimana cara agar karya-karya talent Institut Musik Jalanan dapat dipublikasikan secara luas?

  1. Kami punya media televisi bernama : YouTube.
  2. Kami punya jaringan radio bernama : Soundcloud.
  3. Kami punya media komunikasi tercepat bernama : Twitter, Path, Facebook, dan puluhan media lainnya. Kami hampir tak punya alasan untuk takut bersaing dengan kerasnya Industri musik.

Ibaratkan para musisi dan pengamen jalanan adalah warung-warung kopi pinggir jalan yang setiap saat bisa tergusur, kami akan mengumpulkan warung-warung kopi kecil ini dalam sebuah kekuatan untuk bersaing dengan kerasnya laju gerai-gerai minimarket dan retail industri besar bermodal raksasa.

Selama isi, materi dan kualitas kami mampu bersaing, kami tidak akan pernah takut dengan produk-produk besar, “Kalau takut jangan berani-berani, kalau berani jangan pernah takut-takut”.

Perform Sinyo – salah seorang talent artis dari Institut Musik Jalanan yang berhasil masuk dalam album kompilasi perdana IMJ. Dhea adalah seorang pengamen yang sehari-hari beraktivitas mengamen di metromini dan bus kota. #KalahkanHariIni

Berikut adalah dokumentasi perjalanan panjang Institut Musik Jalanan sejak awal didirikan hingga post ini dipublish.

  1. Kondisi Lahan IMJ Sebelum dibangun.
Andi Malewa dan Leo Tanjung
Dok: IMJ
  1. Tahap Audisi, Recording & Hearing untuk album perdana IMJ, Talent Kawan-kawan musisi jalanan.
  1. Tahap pembuatan Video Klip single Sinyo – Penjaga Cinta, Album Kompilasi Institut Musik Jalanan, Kalahkan Hari Ini.
Dok: IMJ

Gerakan Institut Musik Jalanan dalam liputan NET TV:

Dapatkan Album perdana Institut Musik Jalanan #KalahkanHariIni di Markas Besar Institut Musik Jalanan.

Executive Producer : Frysto Gurning
Executive Director : Andi Malewa
Producer : Iksan Skuter
Finance Manager : Shinta Anggraini
Program Manager : Ridho Abdillah
Supervisor : Widi Wihendra Putra

Salam Jalanan!

Leave a Reply